Moons-Orchid-Kebun
Moons-Orchid-BUKU-1001

Hibrida

Spesies

Buku 1001 Anggrek Spesies

Tahukah Anda

Agar Anggrek Bulan Cepat Berbunga Lagi

Agar Anggrek Bulan Cepat Berbunga Lagi

Setelah hampir semua bunga Phalaenopsis Anda layu, tentu Anda mulai bertanya “kapan lagi tanaman ini berbunga? Apa...

Agar Vanda Rajin Berbunga

Agar Vanda Rajin Berbunga

Dapatkan bibit Vanda yang berkualitas :  Dari sumber/nurseri yang dapat menjamin kualitas tanaman yang dijualnya.Pilih bibit yang...

Cattleya di Teras Rumah

Cattleya di Teras Rumah

- Cattleya adalah tanaman epiphyte*). Di habitat aslinya anggrek ini  hidup   menumpang pada pohon-pohon kayu  besar,  sehingga ...

Pemupukan Anggrek-Dendro Mini

Pemupukan Anggrek-Dendro Mini

Perawatan  Dendrobium mini, tidaklah beda dengan perawatan kakaknya, Dendrobium ”normal.” Mereka dapat ditanam di pot dengan media...

Yang Sering Ditanyakan kepada Moon’s Orchid

Yang Sering Ditanyakan kepada  Moon’s Orchid

Kok saya nggak bisa menanam anggrek? Tidak benar. Siapa saja bisa menanam anggrek. Wanita, pria, tua, muda...

Mengatasi Keong di Nurseri Anda

Mengatasi Keong di Nurseri Anda

Musim hujan artinya musim keong dan siput. Kata orang, “ hampir nggak ada kebun anggrek yang tanpa...

Anggrek sebagai Obat

Anggrek sebagai Obat

Selain keindahannya, Anggrek juga mempunyai manfaat lain, bahkan yang lebih penting ketimbang sebagai  penghias halaman rumah kita....

Memilih Tanaman Anggrek yang Cocok

Memilih Tanaman Anggrek yang Cocok

Untuk meningkatkan keberhasilan Anda dengan tanaman anggrek, ada beberapa hal dasar yang layak dijadikan acuan. Pertama, tentukan...

«
»
872968
hari ini
Total
339
872968

Tokoh Anggrek

Cattleya_labiata

Kisah Sebuah Tanaman Anggrek Cattleya

Suatu hari, pada akhir abad ke-18, seorang ahli botani Inggris, yang bernama William Cattley, menerima paket kiriman tanaman tropis dari Brazil. Di antara banyak tanaman itu, ada tanaman anggrek yang terbungkus moss, pakis dan tanaman lainnya. Cattley segera menanam tanaman anggrek itu di pot, dan berupaya merawatnya dengan sabar serta penuh harap.

Saat itu, Inggris sedang gencar membiayai ekspedisi ke berbagai penjuru dunia, untuk memburu tanaman tropis yang eksotis. Berton-ton tanaman dikirim dengan kapal untuk dibudidayakan di Inggris. Namun, tidak banyak kolektor maupun kebun-kebun terkenal -- termasuk Royal Botanic Garden di Kew, Inggris-- yang berhasil menyelamatkan, apalagi membudidayakan, tanaman anggrek dari wilayah tropis itu.

Ternyata, kesabaran William Cattley membuahkan hasil. Pada November 1818, tanaman anggreknya itu berbunga. Tentu saja keberhasilan Cattley menjadi buah bibir di Eropa. Saat itu di Eropa orang belum pernah melihat tanaman anggrek dengan bunga yang demikian besar. Bunga anggrek berwarna ungu serta berbau harum ini, mengegerkan para pencinta tanaman anggrek di Eropa.

Beberapa bulan kemudian, tanaman anggrek yang serupa dengan milik Cattley itu, juga berbunga di Glasgow Botanic Garden di Skotland. Segera John Lindley, ahli botani berkebangsaan Inggris, mendeskripsikan tanaman anggrek itu dalam bukunya Collectanea Botanica, yang diterbitkan pada 1821. Untuk menghormati William Cattley, Lindley menamakan tanaman anggrek itu Cattleya labiata. Tulisan Lindley (yang hingga kini terkenal sebagai pemberi nama bagi tanaman anggrek) membuat nama Cattley populer sebagai nama Genus tanaman anggrek Cattleya, atau Si Ratu Anggrek.

Sementara itu, William Swainson, si pemburu tanaman anggrek itu, menghilang entah ke mana. Dia, yang berbulan-bulan menyabung nyawa di hutan-hutan demi mengirimkan buruannya ke William Cattley dan Glasgow Botanic Garden di Skotland, enggan membuka rahasia tempat Cattleya yang ia temukan itu.

Swainson membiarkan orang mengira-ngira dan mencari tempat asal Cattleya itu. Berbagai berita tersiar menyebutkan nama-nama wilayah di Brazil sebagai tempat Cattleya itu ditemukan. Tempat-tempat itu segera diserbu, tapi semuanya tanpa hasil. Baru 71 tahun kemudian, pada 1889, Cattleya labiata itu ditemukan kembali secara kebetulan dalam keadaan bahagia tanpa gangguan, di habitat aslinya, di Propinsi Pernambuco, Brazil.

Sejak penemuan kembalinya pada 1889 hingga1907, Royal Horticultural Society memberi 15 penghargaan FCC (First Class Certificate) dan 22 AM (Awards of Merit) kepada Cattleya labiata sebagai tanaman anggrek dengan pola warna baru dan mencolok, yang pernah dipamerkan. Kini nama C. labiata telah menghasilkan berbagai hibrida yang cantik.

Kisah petualangan 71 tahun Cattleya labiata dengan penemunya, juga merupakan kisah menarik yang akan kami sajikan nanti.

 

Penulis: Mazna Hashim.  Bahan dari berbagai sumber.

foto_Heinrich_Gustav_Reichenbach_1823-1889

Heinrich Gustaf Reichenbach (Rchb.f.)

(Dia yang berwasiat untuk menyimpan karyanya selama 25 tahun ) 

Nama Reichenbach, tentu saja tidak asing bagi pencinta tanaman anggrek. Nama ini sering terlihat di belakang nama botani beberapa genus atau pun spesies tanaman anggrek. Contohnya, Aerangis Raichenbach, atau Rchb.f. (yaitu singkatan standar untuk nama tokoh ini ketika menuliskan nama botani suatu tanaman).

Ya, Reichenbach memang yokoh yang berjasa dalam pemberian nama untuk tanaman anggrek.

Reichenbach, putra seorang ahli botani. Ia lahir di Dresden, sebuah kota di pegunungan Jerman, pada 3 Januari 1823. Ia mulai tertarik dan mempelajari tanaman anggrek sejak remaja, karena ia sering membantu sang ayah. Dan pada usia 29 tahun, Reichenbach memperoleh gelar Doctor dalam bidang botani, lewat karyanya tentang pollen tanaman anggrek. Dan teruslah ia berkiprah di bidang anggrek, menjadi guru besar luar biasa untuk bidang botani, hingga ditunjuk menjadi direktur Botanical Garden di Universitas Hamburg, Jerman.

Ketika itu Eropa sedang tergila-gila pada tanaman anggrek dari daerah tropis. Puluhan ribu jenis tanaman anggrek diangkut dengan kapal, lewat pelayaran berbulan-bulan, menuju Eropa. Di Jerman, Reichenbach bertanggungjawab untuk mengenali, kemudian memisah-misahkan tanaman anggrek ini dan memasukkannya ke dalam genusnya masing-masing. Ia membuat catatan, menggambar secara detil hingga ke anatomi semua bunga anggrek itu, karena belum adanya kamera saat itu. Tumpukan karyanya yang sangat banyak menyaingi apa yang dikakukan John Lindley di Royal Botanic Gardens, Kew (yang sering disingkat Kew Gardens atau Kew), yang saat itu belum lama didirikan di Kew, London, Inggris.

Sayang, Reichenbach sering menyombongkan tentang kebanyakan deskripsinya itu, hingga kemudian menimbulkan kebingungan dalam penamaan tanaman anggrek.

Dia juga menyimpan tumpukan hasil karyanya di museum Wina, Austria (saat itu bagian dari Jerman) bukannya di Kew Garden. Padahal, Kew adalah lembaga internasional untuk pendidikan dan penelitian botani. Hal ini diduga akibat kekecewaan Reichenbach pada Kew yang mengangkat Robert Allen Rolfe, sebagai tokoh nomor wahid pemberi nama tanaman anggrek.

Atas permintaannya, karya Reichenbach tidak dibahas dan didiskusikan di Kew hingga 25 tahun sesudah kematiannya. Akibatnya, banyak tanaman anggrek yang dideskripsi ganda, hingga perlu dikoreksi ulang.

Penulis: Mazna Hashim. Bahan: dari berbagai sumber.

Foto_John_LindleyJohn Lindley (Lindl)
Bocah  Tukang Kebun yang Menjadi Bapak Anggrek  Dunia

 

Siapakah John Lindley? Diakah yang namanya sering tertulis mengikuti nama tanaman anggrek? Ya, dialah John Lindley, atau dikenal dengan standar singkatan Lindl. Dialah tokoh yang berjasa dalam memberi nama tanaman anggrek. Dialah yang mengutak-katik tanaman anggrek, memeriksa struktur bunganya, mengopek bagian-bagian bunga anggrek, untuk mengenali sepal, petal, lip, column dan bagian- lain bunga anggrek untuk mengenali hingga dapat mengelompokkan mereka pada genusnya masing-masing. Dia juga membuat ilustrasi tanaman dan bunga anggrek itu secara detil, karena tiadanya alat potret canggih saat itu. Berkat pria inilah kita sekarang mengenali tanaman anggrek Genus Chycis, Genus Coelogyne atau anggrek spesies Ascocentrum miniatum, Bulbophyllum vaginatum, atau Coelogyne pandurata.

John Lindley lahir di Inggris pada 8 Februari 1799.

Sejak bocah, Lindley kecil telah bekerja di nurseri milik keluarga mereka.

Ayahnya, George Lindley, walalau menguasai bidang pertanian, kehidupannya bersama isteri serta keempat anak mereka, selalu dalam kekurangan bahkan sering terlibat hutang. Lindley, pada usia 16 tahun terpaksa ikut berdagang untuk membantu kehidupan keluarga.

Suatu hari, John Lindley remaja berkenalan dengan seorang ahli botani, William Jackson Hooker. Ahli botani ini kemudian mengizinkannya membaca buku-buku botaninya, dan bahkan memperkenalkannya dengan Sir Joseph Banks (seorang tokoh anggrek juga).

Lindley mengikuti dan bekerja pada Banks di London. Mulailah ia bekerja dengan mengenal spesies-spesies tanaman baru. Ia juga menulis buku, lengkap dengan ilustrasi berwarna tentang tanaman bunga mawar.

Kemudian, Lindley mengalami kesedihan ketika Banks meninggal dunia. Namun, salah seorang kawan Banks yaitu seorang pedagang kaya, William Cattley (lihat Kisah Sebuah Tanaman Anggrek) mempekerjakan Lindley untuk mendeskripsi dan membuat ilustrasi berbagai tanaman barunya yang didatangkan dari berbagai penjuru dunia. Saat inilah Lindley, untuk menghormati bosnya ini, menamakan genus Cattleya.

Keahlian pemuda ini makin terasah, hingga ia juga menerbitkan karyanya tentang tanaman langka dan eksotis, termasuk tanaman anggrek, lengkap dengan ilustrasi berwarna yang ia buat sendiri. Saat itu ia baru berusia awal 20-an.

Lindley memang berbakat dan ulet. Sebelum berusia 30 tahun, ia telah ditunjuk memimpin bidang botani di University Collegedi di London, mengajar serta berperan dalam berbagai lembaga dan kegiatan lainnya, di samping tetap mendeskripsi ribuan tanaman yang didatangkan para pemburu tanaman anggrek. Ia juga menulis pengetahuannya di banyak media ilmiah saat itu, bahkan membantu menulis Encyclopedia of Plants. Belum genap 30 tahun usianya ketika ia menerima gelar kehormatan PhD dari Universitas Munchen, Jerman, serta gelar kehormatan lainnya dari Prancis, Amerika serikat dan Swis.

Itulah John Lindley, yang berbagai karya ilmiahnya tetap terpakai sampai saat ini. Dia, yang hampir seluruh hidupnya mengabdi di bidang botani khususnya tanaman anggrek. Bocah tukang kebun inilah yang mendapat gelar Father of Orchidology, alias Bapak Ilmu Anggrek.

Penulis: Mazna Hashim.  Bahan dari berbagai sumber. 

 

Dibesarkan dengan Anggrek dan Meninggal Bersama Anggrek

Johann lahir di Antwerpen, Belgia 29 Juli 1867.  Berkat  bibinya,
Johann kecil mulai menyukai anggrek. Ia bahkan ikut   merawat dan
membuat sketsa tanaman anggrek. Pada usia 10 tahun, ia mulai membuat
herbariumnya sendiri.
Setamat SD  Johann  melanjutkan sekolah  di Amsterdam, Belanda. Di
situ bakatnya terlihat oleh gurunya,  Dr. J.C. Costerus,  yang
menyarankannya mempelajari bidang  horticultura.
Tapi, karena tak ada sekolah lanjutan untuk bidang hortikultura di
sana, Johann bekerja di nurseri  Groenewegen & Co. di  Amsterdam.
Ketika  bekerja itulah ia mulai tertarik pada aneka bentuk bunga yang
unik dan aneh.
Lama kelamaan  minatnya pada tumbuhan semakin meningkat, aspek
komersial hortikultura  jadi kurang menarik lagi baginya. Saat itu sang
guru, Costerus, menyarankan Smith ikut ke Hindia  Belanda, yaitu
Indonesia.
Pada 1891, Smith berangkat ke  Indonesia.  Di sana ia mendapat
pekerjaan pertama sebagai inspektur perkebunanan kopi. Melihat hutan
perawan Indonesia yang menggiurkan, Smith merasa menanam kopi saja
tidak cukup baginya.
Rupanya pucuk dicinta ulam tiba. Smith mendapat undangan dari Profesor
Treub, direktur Buitenzorg Botanic Gardens, alias Kebun Raya Bogor.
Smith diminta menggantikan  sementara   hortikulturis kurator yang
sedang berlibur ke Holland.
Dari Bogor, Smith ditawari bekerja dikebun Cibodas. Lebih dari 30
tahun ia  bekerja di situ. Di sinilah Smith mulai terlibat  dan makin
tertarik dengan tanaman anggrek. Sebagaimana  para ahli di zaman
itu, Smith pun membutuhkan penggambar untuk mengidentifikasi tanaman
anggreknya. Karena tak ada yang ia anggap layak untuk menjadi
asistennya, Smith terpaksa melakukannya sendiri. Ia mendeskripsi dan
membuat ilustrasi  berbagai spesis baru tanaman anggrek.
Tahun 1900, Smith  berangkat ke Maluku dan Sulawesi. Dua tahun
kemudian, ia membawa hasil data tentang tanaman anggrek  Indonesia itu
ke Belanda, menyerahkannya kepada Dr Treub untuk dipublikasikan.
Jasanya ini membuatnya menerima penghargaan gelar kehormatan PhD dari
Universitas Utrecht  pada 1910.

Smith kembali memimpin Kebun Raya Bogor, hingga ia pensiun pada  1924 dan kembali ke Holland. Ia terus bekerja walau   mulai lemah dan sakit. Di rumahnya ia masih menulis untuk buletin Kebun Raya serta melengkapi  data lamanya maupun mendeskripsi tanaman anggrek baru, antara lain  Dendrochilum atjehense J.J.Sm. 1943 dari  Sumatra. Ia juga menulis berjilid-jilid buku tentang genus anggrek dari Jawa, Sumatra, Ambon, Papua, bahkan Semenanjung Malaysia dan Kepulauan Pilipina.

Akhirnya Smith beristirahat di rumahnya dalam kebunnya yang penuh
dengan tanaman anggrek yang dikirimi kawan-kawannya dari berbagai penjuru
dunia. Itulah minat utamanya.
Menjelang  ajalnya, pada perang Dunia II, Jerman menduduki
Holland dan kekurangan bahan bakar memaksa penghentian pemanasan
greenhousenya.
Smith meninggal 1947 di Holland. Lebih dari separo usianya Smith
tinggal di Bogor dan  Cibodas. Sayang tak ada cerita, apakah ia juga
makan karedok atau oncom.

Penulis: Mazna hashim.  Bahan dari berbagai sumber

Moons-Orchid-Koleksi-Artikel
Moons-Orchid-kunjungan-visiting-appointment
Moons-Orchid-Koleksi-pribadi
Anggrek sebagai ObatCattleya di Teras RumahAnggrek Rhinchostylis retusaAnggrek Anguloa-Si Cantik yang Menutup DiriBudidaya Tanaman  Anggrek Catasetum csBudidaya Tanaman Anggrek  CattleyaMengatasi Keong di Nurseri AndaAnggrek Paphiopedilum-Kantong  yang  Menyimpan GosipYang Sering Ditanyakan kepada  Moon’s Orchid